TERBIT FAJAR

Berita Utama

Peristiwa

Showbiz

Ad Placement

Foto

Video

Kamis, 15 Januari 2026

Tarif Terjangkau dan Jadwal Andal, Kereta Api Lokal Sumbar Jadi Andalan Long Weekend


SUMBAR
 | Menyambut libur akhir pekan yang bertepatan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat menunjukkan kesiapan penuh dalam melayani mobilitas masyarakat. Selama periode 16 hingga 18 Januari 2026, KAI Divre II Sumbar menyiapkan total 20.496 tempat duduk, atau rata-rata 6.832 kursi per hari, guna mengantisipasi lonjakan penumpang pada momentum long weekend tersebut.

Kesiapan ini menjadi bagian dari komitmen KAI dalam menyediakan moda transportasi publik yang aman, nyaman, dan terjangkau bagi masyarakat Sumatera Barat, khususnya pada momen libur keagamaan yang kerap dimanfaatkan untuk perjalanan wisata, silaturahmi keluarga, maupun aktivitas edukatif.

Kepala Humas KAI Divre II Sumbar, Reza Shahab, menjelaskan bahwa untuk mendukung kelancaran arus penumpang, pihaknya mengoperasikan tiga layanan kereta api lokal andalan, yakni KA Minangkabau Ekspres relasi Pulau Aie–Bandara Internasional Minangkabau (BIM), KA Pariaman Ekspres relasi Pauh Lima–Naras, serta KA Lembah Anai relasi Kayutanam–Padang.

Dari ketiga layanan tersebut, KA Pariaman Ekspres menjadi salah satu primadona masyarakat. Kereta ini melayani 10 perjalanan setiap hari di lintas Pauh Lima–Padang–Pariaman–Naras dengan tarif tiket yang sangat terjangkau, yakni Rp5.000. Selain menjadi sarana transportasi harian, KA Pariaman Ekspres juga banyak diminati wisatawan yang ingin menikmati destinasi unggulan Pantai Gandoriah dan kawasan pesisir Pariaman.

Sementara itu, KA Minangkabau Ekspres menjalani 12 perjalanan per hari pada rute Pulau Aie–BIM dengan tarif Rp10.000. Kereta ini memiliki peran strategis sebagai penghubung utama menuju bandara, sekaligus mendukung mobilitas wisatawan dan pelaku perjalanan bisnis. Tidak hanya itu, KAI juga menghadirkan program tiket rombongan edukatif yang ramah bagi pelajar, sehingga perjalanan dengan kereta api menjadi sarana pembelajaran yang menyenangkan.

Adapun KA Lembah Anai, yang melayani enam perjalanan setiap hari pada rute Kayutanam–Padang, menawarkan pengalaman perjalanan yang berbeda. Panorama alam hijau dan jalur berkelok di kawasan Lembah Anai memberikan sensasi tersendiri bagi penumpang, menjadikan perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga menikmati keindahan alam Sumatera Barat.

“Pengoperasian ketiga kereta api lokal tersebut memiliki peran strategis dalam meningkatkan keterhubungan antardaerah di Sumatera Barat sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat setempat,” ujar Reza Shahab.

Ia menambahkan, dengan tarif yang terjangkau serta fasilitas yang terus ditingkatkan, kereta api menjadi pilihan transportasi ideal bagi masyarakat maupun wisatawan. Selain efisien dan ramah lingkungan, perjalanan dengan kereta api juga menawarkan kenyamanan dan kepastian waktu yang semakin baik.

Untuk kemudahan akses, Reza mengingatkan bahwa tiket kereta api lokal dapat dipesan melalui aplikasi Access by KAI. Sistem penjualan tiket dibuka secara bertahap mulai H-7 sebelum jadwal keberangkatan, sehingga masyarakat diimbau untuk merencanakan perjalanan sejak dini.

“Kami mengimbau pelanggan untuk membeli tiket hanya melalui kanal resmi Access by KAI guna menghindari potensi penipuan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.

Dengan perencanaan operasi yang matang dan jadwal perjalanan yang andal, KAI Divre II Sumbar memastikan setiap pelanggan dapat menikmati layanan transportasi yang aman, tertib, dan menyenangkan selama libur panjang Isra Mi’raj. “KAI akan terus berupaya meningkatkan kualitas layanan angkutan penumpang, baik dari aspek ketepatan waktu, kenyamanan, maupun keselamatan, agar kebutuhan mobilitas masyarakat dapat terlayani secara optimal,” tutup Reza.


TIM RMO 

Menghubungkan Kampung, Kota, dan Wisata, Pariaman Ekspres Jadi Ikon Transportasi Sumbar


SUMBAR
 | Tahun 2025 menjadi penanda penting bagi transportasi publik di Sumatera Barat. Di tengah meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat, kereta api justru tampil sebagai pilihan utama. PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat mencatat hampir dua juta penumpang telah dilayani sepanjang tahun, sebuah capaian yang mencerminkan kepercayaan publik yang terus tumbuh.

Dari total 1.978.241 penumpang yang menggunakan layanan kereta api di wilayah Sumatera Barat, satu nama menonjol jauh di atas yang lain: KA Pariaman Ekspres. Kereta ini melayani 1.620.600 penumpang, atau lebih dari 80 persen total volume penumpang Divre II Sumbar. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan gambaran betapa kereta ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Setiap hari, Pariaman Ekspres menghubungkan Pauh Lima–Padang–Pariaman–Naras dengan 10 perjalanan pulang pergi. Tarif yang sangat terjangkau, hanya Rp5.000, membuatnya inklusif bagi semua kalangan—mulai dari pelajar, pekerja harian, pedagang kecil, hingga wisatawan yang ingin menikmati pesisir barat Sumatera Barat.

Sepanjang perjalanan sekitar satu setengah jam, penumpang disuguhi pemandangan laut lepas, hamparan sawah, hingga perkampungan khas Minangkabau. Pengalaman ini menjadikan perjalanan bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan bagian dari rekreasi itu sendiri. Tak heran jika kereta ini kerap dipilih wisatawan menuju Pantai Gandoriah dan destinasi pesisir lainnya di Kota Pariaman.

Kepala Humas KAI Divre II Sumbar, Reza Shahab, menegaskan bahwa dominasi Pariaman Ekspres lahir dari fungsi strategisnya sebagai penghubung kawasan perkotaan, pesisir, dan pusat wisata. Menurutnya, tingginya animo masyarakat menjadi bukti bahwa layanan kereta lokal mampu menjawab kebutuhan mobilitas modern yang aman, murah, dan nyaman.

Puncak animo terjadi saat perhelatan Festival Tabuik di Kota Pariaman pada 6 Juli 2025. Pada momen budaya tersebut, KAI menyediakan 4.240 tempat duduk, namun tiket yang terjual mencapai 6.481 lembar atau setara 153 persen dari kapasitas. Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya peran kereta api dalam mendukung agenda budaya dan pariwisata daerah.

“Lonjakan penumpang ini membuktikan bahwa KA Pariaman Ekspres bukan hanya sarana transportasi, tetapi telah menjadi bagian dari ekosistem pariwisata dan budaya di Sumatera Barat,” ujar Reza. Kereta ini tidak lagi dipandang sekadar alat angkut, melainkan medium yang menghidupkan pergerakan ekonomi dan interaksi sosial.

Selain Pariaman Ekspres, KAI Divre II Sumbar juga mencatat kontribusi signifikan dari KA Minangkabau Ekspres yang melayani rute Bandara Internasional Minangkabau–Pulau Aie dengan 258.312 penumpang, serta KA Lembah Anai relasi Kayutanam–Padang dengan 99.329 penumpang. Ketiganya memperkuat konektivitas antarwilayah dan mendukung aktivitas masyarakat serta wisatawan.

Kinerja positif ini menjadi dasar komitmen KAI untuk terus meningkatkan kualitas layanan. Ketepatan waktu, kenyamanan, dan keselamatan menjadi fokus utama, seiring dengan penyesuaian kapasitas dan pola operasi agar mampu mengakomodasi pertumbuhan permintaan penumpang.

“Kami akan terus berinovasi dan memperkuat layanan agar kereta api tetap menjadi moda transportasi andalan masyarakat Sumatera Barat,” tutup Reza. Dengan capaian hampir dua juta penumpang dalam setahun, kereta api—khususnya Pariaman Ekspres—telah membuktikan diri sebagai simbol transportasi publik yang relevan, humanis, dan dicintai rakyat.


TIM RMO 

Selasa, 13 Januari 2026

Hampir Dua Juta Perjalanan, Satu Tahun Kepercayaan untuk KAI Sumbar


SUMBAR
 | Deru roda baja yang beradu dengan rel kini bukan sekadar suara perjalanan, melainkan penanda tumbuhnya kepercayaan publik. Sepanjang tahun 2025, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat mencatat capaian impresif dengan melayani 1.978.241 penumpang, mendekati angka psikologis dua juta pengguna jasa dalam satu tahun. Sebuah lonjakan signifikan dibandingkan tahun 2024 yang mencatat 1.697.020 penumpang.

Pertumbuhan 16,6 persen atau hampir 280 ribu penumpang tambahan ini bukan hanya angka statistik. Ia mencerminkan perubahan perilaku masyarakat Sumatera Barat yang kian menjadikan kereta api sebagai moda transportasi utama—aman, terjangkau, dan semakin nyaman di tengah dinamika mobilitas harian dan pariwisata daerah.



Stasiun Padang muncul sebagai simpul pergerakan terpadat. Dari sisi kedatangan, stasiun ini mencatat 533.251 penumpang, menjadikannya gerbang utama mobilitas masyarakat. Disusul Stasiun Pariaman dengan 408.054 penumpang, Air Tawar 166.833 penumpang, Naras 132.632 penumpang, serta Stasiun BIM 103.935 penumpang.

Dari sisi keberangkatan, peta pergerakan tak jauh berbeda. Stasiun Padang kembali memimpin dengan 509.113 penumpang, diikuti Pariaman 394.193 penumpang, Air Tawar 192.345 penumpang, Naras 118.350 penumpang, dan BIM 105.649 penumpang. Angka-angka ini menegaskan peran strategis kereta api dalam menghubungkan pusat kota, kawasan pesisir, hingga akses bandara.

Kepala Humas KAI Divre II Sumatera Barat, Reza Shahab, menyebut capaian ini sebagai buah dari konsistensi peningkatan layanan. Menurutnya, kepercayaan publik tidak datang secara instan, melainkan dibangun melalui pengalaman perjalanan yang positif dari waktu ke waktu.

“Dibandingkan tahun 2024 yang melayani 1.697.020 penumpang, capaian 2025 yang hampir menyentuh dua juta penumpang menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap layanan kereta api di Sumatera Barat terus tumbuh,” ujar Reza. “Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, keselamatan, dan kenyamanan perjalanan.”

Lebih jauh, Reza menegaskan bahwa KAI Divre II Sumbar tidak berhenti pada capaian angka. Berbagai inovasi terus disiapkan, mulai dari penguatan operasional, peningkatan fasilitas stasiun dan sarana, hingga layanan pelanggan yang semakin adaptif terhadap kebutuhan masyarakat modern.

Kereta api kini tidak lagi dipandang semata sebagai alat transportasi, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pariwisata dan penggerak ekonomi daerah. Jalur-jalur favorit seperti Padang–Pariaman menjadi saksi bagaimana kereta api menghubungkan destinasi, memperpendek jarak, dan membuka peluang ekonomi lokal.

Di tengah tantangan transportasi perkotaan dan isu keselamatan jalan raya, kereta api tampil sebagai solusi yang semakin relevan. Ketepatan waktu, harga terjangkau, serta kenyamanan perjalanan menjadikannya pilihan rasional sekaligus emosional bagi masyarakat.

Menutup tahun 2025, KAI Divre II Sumatera Barat menyampaikan apresiasi kepada seluruh pelanggan yang telah mempercayakan perjalanannya pada layanan kereta api. Komitmen ke depan ditegaskan: menghadirkan transportasi publik yang modern, andal, aman, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat, seiring tumbuhnya Sumatera Barat yang semakin dinamis.

Kepercayaan telah tumbuh di atas rel. Dan pada 2026, perjalanan itu belum akan berhenti—ia justru kian melaju.


Catatan Redaksi:

Kereta api sebagai transportasi publik berperan penting dalam mendukung mobilitas masyarakat, keselamatan perjalanan, pengurangan kemacetan, serta pembangunan ekonomi dan pariwisata daerah. Keberlanjutan layanan yang profesional dan berorientasi pada kepentingan publik menjadi kunci terwujudnya transportasi yang inklusif dan berkeadilan.


TIM 

Kamis, 08 Januari 2026

Ulang Tahun Kabid Humas Kombes Pol Susmelawati Rosya, Wajah Humanis Polri untuk Masyarakat


SUMBAR
 | Di balik seragam cokelat yang rapi dan senyum yang menenangkan, ada keteguhan pengabdian yang terus dijaga. Hari ulang tahun Kabid Humas Polda Sumatera Barat, Kombes Pol Susmelawati Rosya, S.S., M.Tr.A.P., bukan sekadar penanda bertambahnya usia, melainkan momentum refleksi tentang makna tugas, tanggung jawab, dan keberpihakan Polri kepada masyarakat.

Sebagai perwira menengah Polri yang memegang peran strategis di bidang kehumasan, Kombes Pol Susmelawati Rosya dikenal sebagai sosok komunikator publik yang tenang, tegas, dan terbuka. Di tengah dinamika informasi yang bergerak cepat, ia berdiri di garis depan menjaga keseimbangan antara kepentingan institusi dan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang jujur serta berimbang.

Ulang tahun bagi perwira Polri bukanlah perayaan yang berlebihan. Ia hadir sederhana, sarat makna, dan lebih banyak diisi dengan doa serta harapan. Bagi Kombes Pol Susmelawati Rosya, hari istimewa ini menjadi ruang batin untuk menegaskan kembali komitmen Polri untuk Masyarakat, sebuah prinsip yang terus dihidupkan dalam kerja-kerja kehumasan.

Dalam setiap peristiwa yang menyita perhatian publik, Humas Polri memegang peran krusial. Di sanalah kepercayaan publik diuji. Kombes Pol Susmelawati Rosya memahami betul bahwa satu kalimat yang disampaikan kepada media dapat membentuk opini, menenangkan situasi, atau sebaliknya. Karena itu, kehati-hatian, empati, dan akurasi menjadi fondasi utama dalam setiap pernyataan resmi.

Sepanjang pengabdiannya, ia dikenal konsisten mendorong transparansi informasi. Bukan untuk membenarkan, melainkan untuk menjelaskan. Bukan menutup-nutupi, tetapi membuka ruang dialog. Inilah wujud nyata Polri yang hadir bukan sebagai kekuatan yang berjarak, melainkan sebagai institusi yang dekat dengan denyut kehidupan masyarakat.

Makna Polri untuk Masyarakat dalam pandangannya bukan slogan kosong. Ia adalah kerja sunyi yang terwujud dalam klarifikasi cepat saat isu liar berkembang, dalam penjelasan yang menyejukkan saat publik resah, serta dalam komunikasi yang santun ketika kepercayaan sedang diuji. Semua itu menuntut integritas, keteguhan moral, dan kepekaan sosial.

Di hari ulang tahunnya, doa dan ucapan mengalir dari berbagai kalangan—internal kepolisian, insan pers, hingga masyarakat. Ucapan itu bukan hanya bentuk penghormatan personal, tetapi pengakuan atas dedikasi dan konsistensi peran yang dijalankannya selama ini.

Sebagai Kabid Humas, Kombes Pol Susmelawati Rosya juga aktif membangun kemitraan dengan media. Baginya, pers bukan lawan, melainkan mitra strategis dalam menjaga ruang publik yang sehat. Hubungan yang profesional dan saling menghormati menjadi kunci agar informasi yang sampai ke masyarakat tetap faktual dan bertanggung jawab.

Di tengah tantangan era digital, hoaks, dan polarisasi opini, tugas Humas Polri semakin kompleks. Namun, dengan pendekatan humanis dan komunikasi yang beretika, ia terus berupaya memastikan bahwa wajah Polri yang tampil di ruang publik adalah wajah yang melayani, melindungi, dan mengayomi.

Ulang tahun ini pun menjadi penanda perjalanan pengabdian yang belum usai. Harapan ke depan, Polri semakin dipercaya, semakin dekat, dan semakin hadir di tengah masyarakat. Sebab pada akhirnya, keberhasilan institusi bukan diukur dari kekuatan, melainkan dari seberapa besar kepercayaan yang diberikan oleh rakyat.

Di hari istimewa ini, doa terbaik pun dipanjatkan. Semoga Kombes Pol Susmelawati Rosya senantiasa diberi kesehatan, umur panjang, dan kekuatan dalam mengemban amanah. Terus menjadi jembatan komunikasi yang meneduhkan, serta penguat makna sejati Polri untuk Masyarakat.


Catatan Redaksi:

Berita feature ini disusun sebagai bentuk refleksi dan apresiasi atas pengabdian aparatur Polri dalam momentum ulang tahun, dengan menekankan nilai humanisme, transparansi, dan komitmen Polri sebagai pelayan masyarakat.


TIM RMO  

Rabu, 07 Januari 2026

Kondisi Jalan Rusak Sebelum Pekerjaan Jalur, KAI Tegaskan Fakta di Lubuk Buaya


PADANG
 | PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat menegaskan bahwa penanganan perlintasan sebidang kereta api dilakukan secara konsisten dan berpedoman penuh pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penegasan ini disampaikan untuk meluruskan berbagai persepsi yang berkembang di masyarakat terkait kewenangan perbaikan jalan di perlintasan sebidang.

Regulasi utama yang menjadi acuan adalah Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 94 Tahun 2018 tentang Peningkatan Keselamatan di Perlintasan Sebidang antara Jalur Kereta Api dengan Jalan. Dalam aturan tersebut, pembagian kewenangan dan tanggung jawab antar pemangku kepentingan telah diatur secara jelas dan tegas.


Kepala Humas KAI Divre II Sumatera Barat, Reza Shahab, menjelaskan bahwa Pasal 49 PM 94 Tahun 2018 secara rinci mengatur siapa yang berwenang melakukan perbaikan jalan di perlintasan sebidang, berdasarkan status kepemilikan jalan. Jalan nasional menjadi kewenangan pemerintah pusat, jalan provinsi berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi, sementara jalan kabupaten atau kota menjadi tanggung jawab pemerintah daerah setempat.

“Dengan ketentuan tersebut, tidak seluruh perlintasan sebidang secara otomatis menjadi kewenangan KAI. Setiap instansi memiliki tanggung jawab sesuai status jalan yang dilintasi rel kereta api,” ujar Reza Shahab.

Ia menegaskan, kewenangan KAI dalam perbaikan jalan di perlintasan sebidang bersifat khusus dan terbatas. KAI berkewajiban melakukan perbaikan apabila kerusakan jalan tersebut disebabkan secara langsung oleh pekerjaan, perawatan, atau perbaikan jalur kereta api yang dilakukan oleh KAI.

“Dalam kondisi tersebut, KAI wajib mengembalikan kondisi jalan seperti semula atau sesuai standar keselamatan yang ditetapkan. Namun apabila kerusakan jalan telah terjadi sebelumnya dan tidak disebabkan oleh pekerjaan jalur kereta api, maka penanganannya tetap mengacu pada kewenangan pemilik jalan,” jelasnya.

Terkait perlintasan sebidang di Lubuk Buaya, KAI Divre II Sumatera Barat memastikan bahwa kondisi jalan di lokasi tersebut telah mengalami kerusakan sebelum dilaksanakannya pekerjaan perbaikan geometri jalur kereta api. Meski demikian, KAI tetap mengambil langkah preventif demi keselamatan bersama.

“Walaupun kerusakan jalan bukan disebabkan oleh pekerjaan kami, KAI tetap melakukan perbaikan bersamaan dengan perawatan jalur. Langkah ini kami ambil semata-mata untuk menjaga keselamatan perjalanan kereta api dan keselamatan pengguna jalan,” ungkap Reza.

Prinsip yang sama, lanjutnya, juga diterapkan pada perlintasan sebidang lainnya, termasuk di kawasan Teluk Bayur. Setiap penanganan dilakukan dengan terlebih dahulu menelaah status jalan serta penyebab kerusakan yang terjadi di lapangan.

“Kami selalu mengedepankan kepatuhan terhadap regulasi. Setiap perlintasan memiliki karakteristik dan kewenangan berbeda, sehingga penanganannya pun tidak bisa disamaratakan,” tambahnya.

KAI Divre II Sumatera Barat juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam meningkatkan keselamatan di perlintasan sebidang. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat kewilayahan, kepolisian, serta masyarakat memiliki peran strategis yang saling melengkapi.


Menurut Reza, keselamatan di perlintasan sebidang bukan hanya persoalan infrastruktur semata, melainkan juga menyangkut kepatuhan, kepedulian, dan tanggung jawab bersama.

“Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menjaga keselamatan di perlintasan sebidang, khususnya di wilayah Sumatera Barat. Tanpa kolaborasi yang kuat, upaya pencegahan kecelakaan tidak akan berjalan optimal,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pengguna jalan agar selalu mematuhi rambu-rambu dan mengutamakan keselamatan saat melintasi perlintasan sebidang, mengingat kereta api memiliki prioritas utama dan jarak pengereman yang panjang.

Melalui penerapan regulasi yang konsisten, langkah preventif di lapangan, serta dukungan seluruh pihak, KAI optimistis keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna jalan di perlintasan sebidang dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan.


TIM RMO  

Selasa, 06 Januari 2026

Langkah Preventif KAI di Lubuk Buaya, Menutup Celah Bahaya di Jalur Rel

SUMBAR | Perlintasan sebidang selalu menjadi ruang pertemuan dua kepentingan besar: kelancaran mobilitas masyarakat dan keselamatan perjalanan kereta api. Di titik inilah risiko sering kali muncul, terutama ketika kondisi jalan dan rel tak lagi berada pada standar ideal. Situasi inilah yang belakangan terjadi di perlintasan sebidang JPL 21 Km 20+0/1 petak jalan Tabing–Duku, Lubuk Buaya, Kota Padang.

Beberapa waktu terakhir, pengguna jalan merasakan ketidaknyamanan saat melintasi jalur tersebut. Permukaan jalan yang rusak dan kondisi geometri rel yang tidak optimal menjadi perhatian serius. Menyikapi hal itu, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat mengambil langkah cepat dengan melakukan perbaikan menyeluruh di lokasi perlintasan.

KAI Divre II Sumatera Barat secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas gangguan yang ditimbulkan selama proses pekerjaan berlangsung. Namun di balik permohonan maaf itu, terdapat komitmen besar untuk memastikan keselamatan bersama tetap menjadi prioritas utama.



Kepala Humas KAI Divre II Sumatera Barat, Reza Shahab, menegaskan bahwa perbaikan tersebut bukan sekadar respons atas keluhan, melainkan langkah preventif yang sangat penting dalam menjaga keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna jalan.

“Perbaikan geometri perlintasan sebidang ini merupakan upaya KAI untuk memastikan perjalanan kereta api tetap aman dan selamat, sekaligus memberikan tingkat keselamatan yang lebih baik bagi masyarakat yang melintas,” ujarnya.

Dalam dunia perkeretaapian, geometri rel memegang peranan vital. Posisi rel yang tidak rata atau bergeser dapat berdampak pada stabilitas kereta, terlebih di area perlintasan yang dilalui kendaraan setiap hari. Karena itu, KAI melakukan pekerjaan teknis secara menyeluruh dan terukur.

Tahapan perbaikan yang dilakukan meliputi angkatan rel atau lifting dan leveling, pelurusan rel yang dikenal sebagai lestrengan atau linning, serta pemadatan balas atau tamping. Ketiga proses ini saling berkaitan dan tidak bisa dilakukan setengah-setengah.




Secara teknis, balas kotor di bawah bantalan rel dibuang hingga kedalaman sekitar 15 sentimeter. Balas baru kemudian dimasukkan dan dipadatkan kembali melalui proses angkatan, pelurusan, dan pemadatan. Langkah ini memastikan rel kembali berada pada posisi ideal dan mampu menopang beban kereta secara aman.

Tak hanya fokus pada jalur rel, KAI juga memperhatikan kondisi jalan yang dilalui masyarakat. Di area perlintasan, dilakukan pengaspalan pada bagian jalan yang berlubang agar kendaraan dapat melintas dengan lebih nyaman dan aman.

Menurut Reza, durasi pekerjaan perbaikan sangat bergantung pada kondisi lintasan serta faktor cuaca. Namun KAI memastikan seluruh pekerjaan dilakukan secara optimal dan secepat mungkin tanpa mengesampingkan standar keselamatan.

“Kami memahami aktivitas masyarakat di sekitar perlintasan ini cukup tinggi. Karena itu, kami berupaya menyelesaikan pekerjaan seefisien mungkin, namun tetap mengedepankan keselamatan,” katanya.



Selama proses perbaikan berlangsung, KAI mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat melintas. Pengguna jalan diminta mengurangi kecepatan, mematuhi rambu keselamatan, serta mengikuti arahan petugas di lapangan.

Dalam konteks yang lebih luas, perbaikan perlintasan sebidang juga berkaitan dengan regulasi nasional. Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 94 Tahun 2018, kewenangan perbaikan dan pemeliharaan jalan di perlintasan sebidang ditentukan oleh status jalan tersebut.

Jalan nasional menjadi tanggung jawab Kementerian Perhubungan, jalan provinsi oleh pemerintah provinsi, jalan kabupaten atau kota oleh pemerintah daerah setempat, dan jalan khusus oleh badan hukum atau lembaga terkait. Aturan ini dibuat untuk memastikan kejelasan tanggung jawab antar pemangku kepentingan.

Dalam aturan yang sama, KAI bertanggung jawab terhadap pemeliharaan konstruksi jalur rel serta melakukan perbaikan jalan apabila kerusakan disebabkan oleh aktivitas perawatan atau pekerjaan jalur rel. Meski demikian, KAI juga dapat melakukan perbaikan jalan sebagai langkah pengamanan keselamatan.

Di Lubuk Buaya, sebelum pekerjaan dimulai, kondisi perlintasan memang telah mengalami kerusakan. Atas dasar itu, KAI beritikad melakukan perbaikan secara bersamaan dengan pekerjaan geometri rel, sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulian terhadap keselamatan publik.

Bagi KAI Divre II Sumatera Barat, keselamatan bukan sekadar slogan, melainkan komitmen yang harus diwujudkan di lapangan. Setiap baut, setiap balas, dan setiap lapisan aspal di perlintasan sebidang menjadi bagian dari upaya menjaga nyawa manusia.

“Kami mengucapkan terima kasih atas pengertian dan kerja sama masyarakat. KAI akan terus berupaya meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna jalan,” tutup Reza Shahab.

Di perlintasan sebidang JPL 21 Lubuk Buaya, kerja-kerja teknis itu mungkin tak selalu terlihat megah. Namun di sanalah, keselamatan dirawat—demi perjalanan yang lebih aman, bagi kereta api maupun masyarakat yang melintas setiap hari.


TIM RMO 

Minggu, 04 Januari 2026

Pelayanan Konsisten dan Tepat Waktu, KAI Divre II Sumbar Perkuat Kepercayaan Masyarakat


PADANG
 | Suasana libur Natal dan Tahun Baru identik dengan mobilitas tinggi masyarakat. Di tengah padatnya arus perjalanan tersebut, kereta api kembali membuktikan diri sebagai moda transportasi publik yang andal, nyaman, dan tepat waktu. Hal ini tercermin dari capaian PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat selama masa angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Sepanjang periode 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, KAI Divre II Sumbar mencatatkan jumlah penumpang sebanyak 123.408 orang. Angka ini menunjukkan pertumbuhan 3,8 persen dibandingkan periode Nataru tahun sebelumnya yang berada di angka 118.898 penumpang.



Lonjakan tersebut bukan terjadi tanpa sebab. Penambahan frekuensi perjalanan, peningkatan kapasitas tempat duduk, serta konsistensi pelayanan menjadi faktor utama meningkatnya minat masyarakat menggunakan jasa kereta api, khususnya untuk perjalanan wisata, mudik lokal, hingga mobilitas keluarga selama libur panjang.

Kepala Humas KAI Divre II Sumbar, Reza Shahab, menyebut pertumbuhan ini sebagai sinyal kuat meningkatnya kepercayaan publik terhadap layanan perkeretaapian di Sumatera Barat.

“Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin percaya dan nyaman menggunakan kereta api. Kereta api kini dipandang sebagai solusi transportasi publik yang efisien, aman, dan ramah lingkungan,” ujar Reza.

Ia menambahkan, perubahan pola pikir masyarakat menjadi modal penting bagi pengembangan transportasi massal yang berkelanjutan. Kereta api dinilai mampu menjawab kebutuhan perjalanan yang bebas dari kemacetan, memiliki jadwal pasti, serta menawarkan kenyamanan yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Dari sisi data operasional, Stasiun Padang menjadi titik keberangkatan dengan volume penumpang tertinggi selama masa Nataru, yakni mencapai 31.746 penumpang. Angka ini mencerminkan peran Padang sebagai simpul utama mobilitas masyarakat di Sumatera Barat.

Disusul Stasiun Pariaman dengan 23.845 penumpang, Stasiun Air Tawar 11.691 penumpang, Stasiun Naras 7.525 penumpang, serta Stasiun Lubuk Alung sebanyak 7.066 penumpang. Jalur Padang–Pariaman tetap menjadi primadona, terutama bagi masyarakat yang memanfaatkan libur akhir tahun untuk berwisata.

Sementara itu, untuk stasiun kedatangan, Stasiun Padang kembali mencatat angka tertinggi dengan 33.852 penumpang. Kemudian diikuti Stasiun Pariaman 24.526 penumpang, Stasiun Air Tawar 10.156 penumpang, Stasiun Naras 8.074 penumpang, dan Stasiun BIM 6.768 penumpang.

Tak hanya dari sisi jumlah penumpang, kinerja KAI Divre II Sumbar juga tercermin dari capaian On Time Performance (OTP) yang sangat tinggi. Selama masa Nataru 2025, ketepatan waktu kedatangan kereta penumpang mencapai 99,60 persen, sedangkan ketepatan waktu keberangkatan berada di angka 99,80 persen.

Capaian ini menjadi bukti kuat bahwa kereta api tetap unggul sebagai moda transportasi yang konsisten terhadap jadwal, terutama di tengah tantangan cuaca dan peningkatan volume perjalanan saat libur panjang.

Menurut Reza, performa tersebut tidak terlepas dari peningkatan mutu operasional secara menyeluruh, mulai dari kesiapan SDM, optimalisasi pengaturan perjalanan, hingga perawatan sarana dan prasarana yang dilakukan secara berkelanjutan.

“Ketepatan waktu adalah salah satu keunggulan utama kereta api karena terbebas dari hambatan lalu lintas. Ini menjadi nilai tambah yang dirasakan langsung oleh pelanggan,” jelasnya.

Dalam rangka memberikan kemudahan akses, KAI Divre II Sumbar juga terus mendorong masyarakat untuk melakukan pemesanan tiket melalui aplikasi Access by KAI, yang sudah dapat dilakukan sejak H-7 sebelum keberangkatan. Langkah ini dinilai efektif dalam membantu calon penumpang merencanakan perjalanan lebih matang.

Selain layanan digital, KAI tetap menyediakan loket go-show di stasiun yang dibuka tiga jam sebelum keberangkatan kereta, selama tiket masih tersedia. Kebijakan ini memberikan fleksibilitas bagi masyarakat yang melakukan perjalanan secara mendadak.

Ke depan, KAI Divre II Sumbar menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan di seluruh lini, baik di stasiun maupun di atas kereta. Fokus utama tetap pada keselamatan, kenyamanan, dan ketepatan waktu perjalanan.

“Kami ingin kereta api tidak hanya menjadi alat transportasi, tetapi juga bagian dari pengalaman perjalanan yang aman, nyaman, dan berkesan bagi masyarakat,” tutup Reza Shahab.


TIM RMO 

Ad Placement

Intermezzo

Travel

Teknologi